MATA SULSEL, BEKASI – Warga di sekitar Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning, Kota Bekasi, masih diliputi trauma pasca ledakan yang terjadi pada Rabu malam (1/4/2026).
Menanggapi kondisi tersebut, DPRD Kota Bekasi mendorong dilakukan evaluasi total terhadap operasional dan perizinan SPBE guna memastikan keselamatan masyarakat.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Wildan Fathurrahman, menegaskan bahwa dampak psikologis pascakejadian tidak boleh diabaikan.
“Kami sangat memahami kondisi psikologis warga pasca ledakan SPBE Cimuning. Rasa trauma yang dialami masyarakat adalah hal yang nyata dan tidak boleh diabaikan,” katanya.
Sebagai langkah awal, DPRD meminta pemerintah daerah dan pihak terkait segera memberikan pendampingan psikososial kepada warga terdampak, sekaligus memastikan kondisi lingkungan benar-benar aman sebelum aktivitas apa pun dilanjutkan.
“Terkait tuntutan warga agar aktivitas SPBE ditinjau ulang, kami menilai itu permintaan yang wajar. Harus dilakukan evaluasi menyeluruh, mulai dari aspek keselamatan (K3), perizinan, hingga dampak terhadap lingkungan sekitar,” tegas dia.
DPRD juga menegaskan bahwa keselamatan warga merupakan prioritas utama. Jika hasil evaluasi menunjukkan adanya risiko tinggi, maka penghentian operasional, baik sementara maupun permanen, harus menjadi pertimbangan.
Selain itu, hak-hak pekerja korban harus tetap dipenuhi melalui BPJS Ketenagakerjaan. Sementara bagi warga terdampak, pemerintah diwajibkan memberikan perlindungan sosial serta bantuan pemulihan.
“Prinsip kami jelas jangan sampai masyarakat hidup dalam ketakutan di lingkungannya sendiri. Negara harus hadir menjamin rasa aman,” ujar, Wildan.

Senada dengan itu, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bekasi, Alimudin, menyarankan warga untuk segera mengajukan surat resmi sebagai dasar dilakukannya diskusi bersama DPRD.
“Apalagi warga trauma. harus mencari solusi. Kita mengevaluasi terkait perijinanya dulu seperti apa? kita minta kembali persetujuan dari warga. Misalkan SPBE buka lagi, warga ada rasa khawatiran kejadian sama. Kita diskusi, ” jelasnya.
Ia menilai insiden ledakan pada Rabu malam (1/4/2026) menjadi momentum penting untuk meninjau kembali perizinan serta persetujuan masyarakat sekitar terhadap keberadaan SPBE tersebut.
“Nanti kita tinjau kembali proses dan persyaratan perijinan SPBE-nya dan aspek lainya,” ucap, Alimudin.
Lebih lanjut, Komisi IV DPRD Kota Bekasi akan berkoordinasi dengan mitra kerja serta komisi lain yang menangani pengawasan tata ruang untuk melakukan evaluasi menyeluruh.
“Kita perlu evaluasi, apakah SPBE layak operasi kembali atau perlu ditutup?” ujar dia.
Di sisi lain, Alimudin juga menyampaikan bahwa dirinya telah mengunjungi korban ledakan yang dirawat di Rumah Sakit Citra Arafiq.
“Saya turut berduka cita. Semoga para korban diberikan kesembuhan dan keluarga yang terdampak diberi ketabahan,” tutur dia.
Sementara itu, Warga di sekitar Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning masih mengalami trauma pasca insiden ledakan gas yang terjadi pada Rabu (1/4/2026). Mereka pun meminta agar aktivitas SPBE tersebut dipertimbangkan kembali.
Salah satu warga RT 002 RW 003, Kelurahan Cimuning, Kecamatan Mustika Jaya, Rondianto, mengaku mengetahui langsung awal mula kejadian kebakaran tersebut. Saat ini, ia tengah mengungsi di wilayah Cinyosog.
“Sekitar 20.20 WIB, Awalnya itu banyak gas di jalan depan SPBE sepeti kabut bau gas nyengat banget,” terang, dia saat mengungsi di wilayah Cinyosog, Kamis (2/4/2026).
Ia menuturkan, tak lama setelah bau gas menyebar, muncul kobaran api yang kemudian merambat ke sejumlah rumah warga di sekitar lokasi. Peristiwa tersebut masih membekas dalam ingatannya hingga kini.
Atas kejadian itu, Rondianto yang merupakan warga asli setempat, mewakili masyarakat sekitar berharap agar aktivitas SPBE dapat ditinjau ulang. Ia juga menegaskan bahwa permukiman warga sudah lebih dahulu ada dibandingkan dengan keberadaan SPBE di wilayah tersebut.
“Saya tau persis ya, jadi warga dulu bukan SPBE dulu di situ, dulu itu lahan kosong,” kata Rondianto saat disinggung keberadaan SPBE.
Meski pernah menjabat sebagai pengurus RT 002 selama beberapa periode, Rondianto mengaku tidak mengetahui secara pasti terkait riwayat perizinan pembangunan SPBE tersebut.
Hal senada disampaikan oleh warga lainnya, Hj. Sustina. Ia mengaku masih merasa takut untuk kembali ke rumahnya yang berada sangat dekat dengan lokasi SPBE. Saat ini, ia bersama keluarganya masih mengungsi di tempat yang lebih aman.
“Kalau bisa mah, tutup aja dah, takut saya,” ucapnya.
Berikut tambahan informasi terkait rincian korban ledakan Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) Cimuning pada Rabu malam (1/4/2026), yang saat ini dirawat di beberapa rumah sakit sebagai berikut:
- Djaimun (Karyawan SPBE) di Rawat RS. Primaya Timur.
- Suyadi (Karyawan SPBE) di Rawat RS. Primaya Timur.
- Saju Varghese (Karyawan SPBE) di Rawat RS. Permata Bekasi.
- Arfian (Karyawan SPBE) di Rawat RS.Permata Bekasi.
- Darmadi status warga RT 002/RW 003 di rawat RSUD Chasbullah.
- Winarmo status warga di rawat RSUD Chasbullah.
- Sapta status warga RT 001/RW 003 di rawat RSUD Chasbullah.
- Yakub Mahmud status warga di Rawat RS. Satria Medika.
- Agustinus Wijaya status warga di rawat RS. Satria Medika.
- Kosasih status warga RT 001/RW 003 di rawat RS. Satrika Medika.
- Dede Arya Andika status warga di rawat RS. Satria Medika.
- Dimas Prayoga status warga warga RT 001/RW 003 di rawat RS. Kartika Husada.
- Samsul status warga RT 002/RW 003 di rawat RS. Kartika Husada.
- Dimas status warga RT 001/RW 003 di rawat RS. Citra Arafik.
- Fajar status warga RT 001/RW 003 di rawat RS. Citra Arafik.
- Sapta Pritanto status warga RT 001/RW 003 di rawat RS. Citra Arafik.
- Aliya status warga dirawat Klinik Asyifa.
- Widarsih status warga dirawat Klinik Asyifa.
- Aulia status warga dirawat RSUD Cibitung.
- Samsul status warga RT 002/RW 003 dirawat RS. Permata Bekasi.

Tinggalkan Balasan